Al-Qur’an Membuat Kita Bahagia : Menemukan Kebahagiaan Hakiki dalam Islam

0

Pada kajian Sabtu pagi yang disampaikan oleh Ustadz Abdul Muhaemin, Guru Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago dibahas secara mendalam mengenai konsep kebahagiaan dalam perspektif Al-Qur’an. Setiap individu tentunya menginginkan hidup bahagia dan memiliki prinsip-prinsip tertentu dalam mengukur kebahagiaan. Namun, bagi seorang muslim, kebahagiaan tidak selalu diukur dari kemewahan duniawi semata. Prinsip-prinsip kebahagiaan bagi seorang muslim telah diatur dengan jelas dalam Al-Qur’an, memberikan panduan yang komprehensif dan mendalam.

Kebahagiaan di Jalan Allah

Ustadz Abdul Muhaemin memulai kajian sabtu pagi dengan menekankan pentingnya kebahagiaan yang dicapai di jalan Allah. Mengutip QS Al-An’am 153, “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” Ayat ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati akan diraih jika kita senantiasa berada di jalan Allah, yakni dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya secara ikhlas dan benar.

Menggabungkan Kebahagiaan Ruh dan Jasad

Kebahagiaan dalam Islam tidak hanya meliputi aspek spiritual (ruh) tetapi juga aspek fisik (jasad). Kebahagiaan ruh akan tercapai melalui keimanan, ketakwaan, dan amal ibadah yang dilakukan hanya karena Allah SWT, seperti sholat, sedekah, dan puasa. Sementara itu, kebahagiaan jasad dapat diraih dengan memenuhi kebutuhan fisik melalui makanan dan minuman yang halal dan thoyyib. QS Al-Qasas 77 menyebutkan, “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”

Berani Menghadapi Resiko Hidup

Menghadapi resiko hidup dengan keberanian adalah salah satu prinsip kebahagiaan yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Ustadz Abdul Muhaemin menjelaskan QS Thaha 71, yang mengisahkan ancaman Fir’aun kepada para pengikut Musa yang beriman. Ancaman apapun yang ada di hadapan kita, kita harus berani menghadapinya karena dengan kenikmatan iman, kita akan merasakan kebahagiaan sejati.

Ketenangan dalam Hati

Ketenangan hati adalah esensi dari kebahagiaan. Jika iman tertanam dalam hati, pikiran, dan perilaku kita, maka kita akan merasakan ketenangan. QS Al-Fath 5 menyebutkan, “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Untuk mencapai ketenangan ini, perlu adanya dukungan dari lingkungan yang positif dan upaya untuk memupuk keimanan.

Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Kebahagiaan tertinggi bagi seorang muslim adalah berpindahnya kebahagiaan dunia ke kebahagiaan akhirat. QS An-Nahl 97 menyatakan, “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” Setiap niat dan tindakan yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT akan membawa kebahagiaan yang abadi di akhirat.

Kesimpulan

Dengan keimanan, seseorang akan meraih kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Bagi siapa saja yang menginginkan balasan di dunia, Allah SWT akan membalasnya di akhirat nanti. Semoga kita semua diberikan keistiqomahan dalam keimanan sehingga kita bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya baik di dunia maupun di akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *