Menjadi Ibadurrahman di Tengah Perubahan Zaman oleh Ust Kresna Eka Raharja, M.Sos.I
Kajian Sabtu Pagi PRIMAGO
Di tengah zaman yang bergerak begitu cepat, manusia menghadapi banyak perubahan. Teknologi berkembang, informasi datang tanpa henti, dan kehidupan terasa semakin sibuk. Namun satu pertanyaan penting tetap relevan hingga hari ini:
Bagaimana agar kita tetap menjadi hamba Allah yang dicintai-Nya?
Al-Qur’an telah memberikan jawabannya melalui Surah Al-Furqan ayat 63–77. Pada ayat-ayat tersebut, Allah menjelaskan ciri-ciri Ibadurrahman, yaitu hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih.
Mereka bukan sekadar orang yang rajin beribadah. Mereka adalah pribadi yang lembut hatinya, bijak lisannya, dan kuat hubungannya dengan Allah.
Dalam Kajian Sabtu Pagi PRIMAGO #186, Ustaz Kresna menjelaskan tiga karakter pertama yang menjadi pondasi utama untuk menjadi Ibadurrahman:
- Rendah hati (tawadu)
- Menjaga lisan dan sabar
- Menghidupkan malam dengan tahajud
1. Rendah Hati: Ciri Pertama Hamba Allah yang Dicintai
Allah berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 63:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati.”
Ayat ini menunjukkan bahwa ciri pertama Ibadurrahman adalah tawadu.
Rendah hati bukan berarti lemah. Rendah hati adalah kesadaran bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah.
Jabatan adalah titipan.
Ilmu adalah titipan.
Harta adalah titipan.
Kesehatan adalah titipan.
Ketika seseorang memahami hal ini, ia tidak akan mudah sombong.
Ia tidak merasa lebih baik dari orang lain. Ia tidak memandang rendah sesama. Ia sadar bahwa semua kelebihan yang dimiliki bisa diambil kembali kapan saja oleh Allah.
Di era media sosial, sifat tawadu menjadi semakin penting. Saat banyak orang berlomba menampilkan pencapaian, seorang mukmin tetap menjaga hatinya agar tidak tertipu oleh pujian.
2. Menjaga Lisan dan Tidak Menjadi “Sumbu Pendek”
Masih dalam ayat yang sama, Allah berfirman:
“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”
Ini adalah ciri kedua Ibadurrahman.
Mereka tidak mudah terpancing emosi.
Mereka tidak reaktif.
Mereka tidak merasa harus memenangkan setiap perdebatan.
Ketika dihina, difitnah, atau dipancing amarah, mereka memilih menjawab dengan kebaikan atau diam.
Mengapa Ini Sangat Penting?
Banyak masalah besar bermula dari hal kecil:
- komentar yang menyakitkan,
- pesan yang menyinggung,
- atau ucapan yang diucapkan saat emosi.
Satu kalimat bisa memutus silaturahmi.
Satu respon impulsif bisa memicu konflik berkepanjangan.
Karena itu, Ibadurrahman memilih memutus rantai pertengkaran dengan kesabaran.
Mereka paham bahwa tidak semua hal harus dibalas.
Tidak semua hinaan perlu ditanggapi.
Tidak semua perdebatan layak dimenangkan.
Kadang kemenangan terbaik adalah ketika kita mampu menahan diri.
3. Menghidupkan Malam dengan Salat Tahajud
Allah berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 64:
“Dan orang-orang yang menghabiskan malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.”
Setelah membahas hubungan dengan manusia, Allah langsung menyebut hubungan dengan-Nya.
Di siang hari mereka rendah hati.
Saat berinteraksi mereka sabar.
Dan di malam hari mereka berdiri di hadapan Allah.
Inilah kekuatan sejati seorang mukmin.
Tahajud: Solusi untuk Banyak Persoalan Hidup
Salat tahajud adalah salat sunnah yang paling utama setelah salat wajib.
Pada waktu malam, suasana lebih tenang. Gangguan berkurang. Hati lebih mudah khusyuk.
Di saat itulah seseorang bisa mengadukan:
- penyakit,
- utang,
- kesulitan belajar,
- masalah keluarga,
- dan berbagai beban hidup.
Banyak orang mencari solusi ke mana-mana, padahal salah satu jalan terbaik adalah bangun di sepertiga malam terakhir dan bermunajat kepada Allah.
Ibadah yang Paling Dekat dengan Keikhlasan
Tahajud adalah ibadah yang sulit dipamerkan.
Saat orang lain tidur, kita berdiri sendiri.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada penonton.
Tidak ada pujian.
Yang ada hanya hamba dan Rabb-nya.
Karena itu, tahajud menjadi salah satu amalan yang sangat menjaga keikhlasan.
Cara Memulai Tahajud bagi Pemula
Banyak orang ingin tahajud tetapi merasa berat.
Kuncinya adalah memulai dari yang ringan dan konsisten.
Pola Tahajud untuk Pemula:
- 2 rakaat Tahajud
- 1 rakaat Witir
Total hanya 3 rakaat.
Sederhana, tetapi sangat bernilai di sisi Allah.
Setelah terbiasa, jumlah rakaat dapat ditambah secara bertahap.
Tips Praktis Agar Mudah Bangun Tahajud
1. Makan Malam Lebih Awal
Idealnya makan malam sekitar dua jam sebelum tidur, agar tubuh tidak terlalu berat saat bangun.
2. Tidur dalam Keadaan Bersuci
Berwudu, membersihkan diri, menggosok gigi, dan menggunakan pakaian yang bersih.
3. Berdoa Sebelum Tidur
Bacalah Surah Al-Fatihah sebanyak 7 kali dengan niat memohon kepada Allah agar dibangunkan pada waktu tahajud.
4. Mulai dari Target yang Realistis
Tidak perlu langsung 8 rakaat. Yang terpenting adalah istiqamah.
Sedekah Daging, Bentuk Syukur yang Nyata
Menjelang bulan Zulhijah, salah satu bentuk rasa syukur yang sangat dianjurkan adalah berkurban.
Namun tidak semua orang memiliki kemampuan untuk membeli seekor hewan kurban secara utuh.
Kabar baiknya, kita tetap bisa ikut berbagi melalui sedekah daging.
Bagi yatim, dhuafa, dan masyarakat pelosok, satu paket daging bisa menjadi kebahagiaan yang sangat berarti. Apa yang bagi kita sederhana, bagi mereka bisa menjadi hidangan istimewa yang jarang dinikmati.
Jika Anda ingin menyalurkan sedekah daging sebagai bentuk syukur dan kepedulian, silakan melalui:
🌐 Ayopedulisesama.com
📱 WhatsApp: 0813-1506-4080
Semoga setiap paket yang Anda salurkan menjadi amal saleh yang terus mengalir pahalanya.
Menjadi Ibadurrahman Dimulai dari Langkah Kecil
Menjadi Ibadurrahman tidak harus menunggu sempurna.
Mulailah dari hal-hal sederhana:
- belajar lebih rendah hati,
- menahan emosi,
- menjaga lisan,
- bangun malam dua rakaat,
- dan berbagi kepada sesama.
Langkah kecil yang dilakukan terus-menerus akan membentuk karakter yang dicintai Allah.
Penutup
Di tengah perubahan zaman, Allah tidak meminta kita menjadi manusia yang paling terkenal, paling kaya, atau paling hebat.
Allah ingin kita menjadi hamba-hamba-Nya yang:
- rendah hati,
- sabar dalam menjaga lisan,
- dan kuat dalam ibadah malam.
Inilah karakter Ibadurrahman.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mendapat rahmat, ampunan, dan tempat terbaik di surga.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin’.

