Sesi Leadership Camp : Dari Penumpang Menjadi Pengemudi oleh Kak Tika PAY

0
Rate this post

Sesi Leadership Camp –  Suasana malam itu terasa berbeda di Aula Gedung Fananie, Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago. Enam belas santri yatim yang tergabung dalam program beasiswa Laskar Langit tampak bersemangat mengikuti sesi ketiga dalam rangkaian Leadership Camp 2025 yang digelar oleh Gerakan Ayo Peduli Sesama (GAPS). Mereka duduk melingkar, memperhatikan setiap kalimat yang meluncur dari narasumber.

Sesi bertajuk “From Passengers to Be a Drivers” itu menghadirkan Chyntiarama Fajriyantika, atau akrab disapa Kak Tika, Ketua Tim Manajemen PAY&DoIT (Pecinta Anak Yatim dan Dhuafa Indonesia Tercinta). Dengan gaya penyampaian lugas dan jenaka, Kak Tika mengajak para santri merenungkan satu pertanyaan mendasar: “Selama ini kalian penumpang atau pengemudi dalam hidup kalian sendiri?”

Perbedaan Penumpang dan Pengemudi

Sesi dimulai dengan sebuah tantangan sederhana. Para peserta diminta menuliskan perbedaan antara penumpang dan pengemudi. Jawaban mereka bervariasi, namun intinya serupa: penumpang cenderung pasif, sedangkan pengemudi harus aktif dan bertanggung jawab.

Penumpang itu boleh mengantuk dan tertidur, tidak harus tahu arah dan tujuan. Sedangkan pengemudi mutlak harus tahu jalan, dilarang mengantuk, serta wajib merawat kendaraan yang ia kemudikan,” ujar Kak Tika di hadapan peserta.

Menurutnya, menjadi pengemudi berarti siap menanggung risiko. “Penumpang memilih aman. Tapi pengemudi memilih mengekspos diri pada bahaya—demi mencapai tujuan,” katanya. “Dan dalam hidup, yang membedakan pemimpin dan pengikut hanyalah satu: siapa yang berani memegang kemudi.”

Disiplin: Jalan Menuju Mental Pengemudi

Usai sesi diskusi, Kak Tika mengurai konsep tentang mental pengemudi yang menurutnya wajib dimiliki seorang pemimpin. Ia membaginya dalam tiga tahap pembentukan:

  1. Forced Discipline — disiplin yang dipaksakan dari luar, seperti aturan dari mentor atau pengawasan ketat;

  2. Self Discipline — disiplin yang tumbuh dari kesadaran pribadi;

  3. Indiscipline — ketidakdisiplinan yang membuat seseorang kehilangan arah.

“Kalau tidak mulai membangun disiplin dari sekarang, kalian akan terus duduk di kursi penumpang,” tegasnya. Ia menambahkan, terlalu sering menunda keputusan hanya akan menjauhkan seseorang dari tujuannya. “Terlalu banyak menunda sama saja seperti mematikan mesin kendaraan di tengah jalan.”

Belajar Mengambil Risiko dan Inisiatif

Di sesi berikutnya, Kak Tika menekankan pentingnya keberanian mengambil risiko. Ia menyebut bahwa menjadi pengemudi berarti siap menghadapi ketidakpastian, sekaligus menyiapkan diri dengan pengetahuan.

“Kalau kalian tidak pernah salah, artinya kalian tidak sedang melakukan apa-apa,” ucapnya.
Ia mendorong para peserta untuk berani mengambil inisiatif, belajar dari kesalahan, dan terus beradaptasi dengan keadaan. “Risiko itu bukan untuk ditakuti, tapi untuk dipahami.”

Para peserta menyimak dengan serius. Beberapa terlihat mencatat, sementara yang lain sesekali mengangguk. Sesi yang berlangsung sekitar dua jam itu berlangsung interaktif, diselingi tanya jawab ringan.

Menyelamatkan Dunia, Mulai dari Dunia Sendiri

Menjelang akhir sesi, suasana mendadak hening ketika Kak Tika menyampaikan pesan penutupnya. Suaranya melembut, namun setiap kata terdengar tegas.

“Sejatinya superhero bukanlah tentang menyelamatkan dunia pada umumnya saja. Menjadi superhero adalah menyelamatkan duniamu, dunia tempat mimpimu tumbuh di tengah ketidakpastian yang akan kamu hadapi di masa depan. Selamatkanlah duniamu, mimpimu—maka kamu mampu menyelamatkan dunia orang lain.”

Kalimat itu disambut tatapan kosong penuh renungan. Beberapa santri tampak menunduk, barangkali memikirkan impian yang ingin mereka perjuangkan.

Membangun Jiwa Pemimpin dari Diri Sendiri

Bagi Peserta Sesi Laskar Langit Leadership Camp, sesi hari itu bukan sekadar pelatihan kepemimpinan. Ia menjadi titik balik dalam cara mereka memandang diri sendiri. Banyak peserta mengaku baru menyadari bahwa selama ini mereka lebih sering menjadi penumpang dalam hidup—menunggu diarahkan, bukan menentukan arah.

Setelah sesi, beberapa peserta menyampaikan kesan mereka.
“Selama ini saya pikir jadi pemimpin itu harus langsung besar. Tapi ternyata mulai dari disiplin kecil dan berani ambil keputusan sendiri,” ujar salah seorang peserta.
Yang lain menambahkan, “Saya jadi ingin lebih aktif di sekolah dan pesantren, supaya tidak terus menunggu kesempatan, tapi menciptakannya.”

Menanam Benih Kepemimpinan Sejak Dini

Gerakan Ayo Peduli Sesama menilai bahwa menanamkan nilai kepemimpinan pada anak-anak yatim sejak dini sangat penting. “Kami ingin mereka tidak sekadar menjadi penerima bantuan, tetapi menjadi penggerak di masa depan,” kata salah satu panitia.

Laskar Langit Leadership Camp 2025 ini dirancang untuk menumbuhkan keberanian, disiplin, dan daya juang, sehingga para santri dapat memimpin bukan hanya dirinya sendiri, tetapi juga lingkungannya kelak.

Ajakan Terbuka

Leadership Camp 2025 mungkin telah usai, namun semangat yang ditanamkan di dada para Laskar Langit masih membara. Mereka kini memahami bahwa menjadi pemimpin berarti berani memegang kemudi hidup, meski jalan di depan penuh risiko dan ketidakpastian.

Bagi siapa pun yang ingin ikut menempa jiwa kepemimpinan generasi muda, Gerakan Ayo Peduli Sesama membuka ruang kolaborasi.
Informasi mengenai program beasiswa, pelatihan kepemimpinan, dan aksi sosial lainnya dapat diperoleh melalui:

📱 WhatsApp: 0813-1506-4080
🌐 Website: ayopedulisesama.com

Karena masa depan tidak menunggu penumpang. Ia hanya menunggu para pengemudi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *