Belajar Menjadi Pemimpin bersama Ust Dr. Awaluddin Faj,M.Pd
Laskar Langit Leadership Camp – Sabtu (01/09/2025), berlangsung sesi Leadership Roleplay yang menggugah di Leadership Camp 2025. Bertempat di aula utama Pondok Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago, acara ini dihadiri oleh 16 santri yatim penerima beasiswa PRIMAGO, yang menantikan ilmu kepemimpinan dengan penuh harap. Pemateri tidak lain adalah Dr. Awaluddin Faj, M.Pd., seorang pimpinan pesantren yang dikenal gagah memberikan inspirasi, lembut membangun karakter.
Membuka Cakrawala Kepemimpinan
Dr. Awaluddin membuka dengan sebuah pernyataan yang sederhana tetapi mendalam: DNA kita adalah pemimpin karena memiliki sifat. Ia mengajak para santri memahami bahwa pemimpin bukan sekadar gelar atau posisi—pemimpin adalah sesuatu yang sudah ada dalam diri, dalam DNA kita. Sifat-sifat kepemimpinan bisa tumbuh jika dipupuk, dilatih, diperkuat sejak dini.
Menurutnya, seseorang menjadi pemimpin tidak hanya dengan memimpin orang lain, tetapi terlebih dahulu memimpin dirinya sendiri. “Menempatkan segala sesuatu pada tempatnya,” kata beliau—artinya, menata diri, menata pikiran, mengelola emosi, mendisiplinkan waktu, dan menanam nilai-nilai positif dalam setiap tindakan.
Apa Itu Memimpin Diri Sendiri?
Sesi roleplay kemudian menggali makna memimpin diri sendiri. Ternyata, bagi Dr. Awaluddin, memimpin diri sendiri berarti:
-
Kesadaran diri — mengetahui kelebihan dan kekurangan, mengenal potensi serta bidang yang perlu diperbaiki.
-
Pengaturan diri — mampu mengorganisasi waktu, prioritas, dan adab agar tindakan selalu bermakna.
-
Kontrol emosional — tidak terbawa gelombang amarah, kecewa, atau rasa takut; selalu bisa menenangkan diri dan memilih respons yang tepat.
-
Integritas — berpegang pada kata, nilai, komitmen; konsisten antara ucapan dan perbuatan.
Sesi roleplay di Laskar Langit Leadership Camp di mana para santri berkesempatan memerankan situasi nyata memfasilitasi hal tersebut. Santri diminta memilih peran: pemimpin yang mendengarkan, pemimpin yang berbicara atau bahkan pemimpin yang menghadapi konflik. Setiap peran membawa tantangan dan peluang untuk mempraktikkan pemimpin atas diri sendiri.
Komunikasi merupakan Kunci Menjadi Manusia Di Atas Rata-Rata
Dr. Awaluddin menegaskan bahwa cara menjadi manusia di atas rata-rata bukan tentang kecerdasan semata, bukan tentang kemampuan fisik yang super, melainkan komunikasi yang baik. Di sini, “komunikasi” bukan hanya soal berbicara, tetapi:
-
bagaimana menyampaikan gagasan dengan jelas,
-
bagaimana mendengarkan sebelum berbicara,
-
bagaimana memilih bahasa—verbal dan nonverbal—yang membangun, bukan menjatuhkan,
-
bagaimana kepekaan terhadap respon orang lain—apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka hormati.
Dalam roleplay, para santri diajak saling berbicara di depan publik, saling memberi umpan balik, memperbaiki nada suara, gerak tubuh, ekspresi. Tak jarang beberapa santri gugup tangan gemetar, suara melemah. Tapi Dr. Awaluddin membimbing: “Latih kalian untuk berbicara di depan ruang publik.” Karena di sanalah kekuatan seorang pemimpin diuji: kemampuan tampil, menjaga pesan tetap menyentuh hati audiens.
Mendengarkan adalah Sisi Tak Terlihat yang Sangat Berdaya
Salah satu poin yang sangat ditekankan adalah: pemimpin harus mampu mendengarkan. Mendengarkan bukan berarti diam saja, melainkan:
-
membuka telinga dan hati pada apa yang dikatakan orang lain,
-
memahami maksud di balik kata-kata—kadang yang tidak diucapkan lebih penting,
-
memberi ruang bagi orang lain berbicara, berbagi ide, keluhan, harapan.
Dalam roleplay, pasangan-pasangan santri berlatih mendengarkan aktif: memecahkan masalah lewat dialog, bukan monolog. Mereka belajar bahwa menjadi pemimpin bukan berarti dominan, melainkan inklusif dan empatik.
“I Can If I Think I Can”: Keyakinan Adalah Motor Penggerak
Menjelang akhir sesi, Dr. Awaluddin mengangkat sebuah moto yang sederhana tapi kuat: “I can if I think I can.” Filosofi ini membangkitkan mentalitas optimis. Bahwa apa pun tantangannya, bila kita meyakini bahwa kita bisa, maka langkah pertama sudah kita ambil.
Lewat roleplay, aktivitas visualisasi dilakukan: setiap peserta ditantang membayangkan dirinya berhasil—berbicara di depan ratusan orang, memimpin rapat, menyelesaikan masalah, menyemangati kawan. Imajinasi positif ini kemudian didorong menjadi tindakan nyata—latihan bicara, menyusun materi, mengumpulkan keberanian.
Dampak dan Refleksi Peserta
Setelah roleplay selesai, refleksi kelompok dilakukan. Beberapa catatan menarik dari para santri:
-
Kepercayaan diri bertambah: dari yang awalnya takut suara gemetar, sekarang bisa mengatur nafas, memilih kata, menjaga kontak mata.
-
Kesadaran baru tentang peran mendengarkan: mereka sadar bahwa selama ini lebih sering bicara daripada mendengar. Sekarang tahu bahwa mendengar bisa lebih banyak memberi manfaat.
-
Motivasi untuk memperbaiki komunikasi: ada yang ingin belajar public speaking lebih serius, ada yang ingin belajar menulis agar kata-katanya lebih terstruktur.
-
Keyakinan diri tumbuh: sepatah kalimat “I can if I think I can” ternyata memantul di pikiran mereka, menjadi mantra kecil ketika menghadapi ketidakpastian.
Bagaimana Sesi Roleplay Berjalan: Dinamika & Tantangan
Agar tidak sekadar teori, Dr. Awaluddin menggunakan metode roleplay yang sangat interaktif:
-
Para santri dibagi menjadi kelompok kecil, masing-masing mendapat skenario yang berbeda: menyelesaikan konflik antar teman, memimpin rapat kecil, memberikan sambutan, mendengarkan keluhan.
-
Ada pengamat dari teman: mereka memberi masukan setelah sesi selesai—apa yang mereka suka, di mana harus diperbaiki.
-
Ada tantangan spontan: misalnya menyampaikan pidato dengan waktu terbatas, atau merespon audiens yang mempertanyakan ide. Situasi nyata ini melatih spontanitas, adaptasi, kontrol diri.
Tentu saja tidak mudah: beberapa santri masih berbicara dengan suara lirih, ada yang lupa susunan materi, ada yang grogi. Tapi tantangan itu justru disambut sebagai peluang belajar: bahwa pemimpin yang baik bukan yang tak pernah gagal, melainkan yang mampu belajar dari kegagalan kecil, terus bangkit, terus mencoba.
Apa Selanjutnya? Menanam Kebiasaan Kepemimpinan
Sesi roleplay hanyalah satu bagian dari keseluruhan Leadership Camp 2025. Namun dampaknya bisa panjang jika kebiasaan-kebiasaan kecil terus dipupuk:
-
Latihan berbicara di depan kelas atau di kelompok kecil tiap hari
-
Membiasakan diri mendengarkan orang lain—di dalam pesantren, keluarga, teman
-
Menulis jurnal refleksi: apa yang sudah dicoba, apa yang gagal, apa yang akan diperbaiki
-
Mengingat motivasi: “I can if I think I can” dijadikan pengingat ketika rasa takut datang
-
Memperhatikan komunikasi nonverbal: cara duduk, bahasa tubuh, intonasi suara
Sesi Laskar Langit Leadership Camp Leadership Roleplay dalam Leadership Camp 2025 oleh Dr. Awaluddin Faj benar-benar membuka mata bahwa menjadi pemimpin bukan soal jabatan, tetapi soal kualitas dalam diri: kesadaran, integritas, kemampuan komunikasi, kepekaan mendengarkan, dan keyakinan diri. Para santri yatim penerima beasiswa PRIMAGO dibekali dengan alat dan pengalaman langsung yang bisa mereka bawa ke depan—baik dalam kehidupan pendidikan, sosial, dan spiritual.
Ingin santri-santri lainnya merasakan pengalaman transformasi seperti ini? Ingin terus memperkuat kepemimpinan dalam diri Anda atau anak-anak didik Anda? Segera hubungi WA 0813-1506-4080 atau klik Website ayopedulisesama.com untuk informasi pendaftaran Leadership Camp selanjutnya, beasiswa, dan program kepemimpinan lainnya. Bersama kita bangun pemimpin masa depan yang berkarakter, komunikatif, dan penuh keyakinan!


