Ustadz Zar : Menempa Semangat Pemimpin dari Aula Fananie Primago
Pembukaan Laskar Langit Leadership Camp – Sore itu, Aula Fananie Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago tampak lebih ramai dari biasanya. Pembawa acara membuka kegiatan dengan salam penuh semangat. Di depan para peserta, spanduk besar bertuliskan “Laskar Langit Leadership Camp 2025” tergantung megah, seakan menegaskan bahwa momentum ini bukan sekadar kegiatan, melainkan ruang penting dalam proses pendidikan karakter.
Kegiatan yang berlangsung tiga hari dua malam ini diselenggarakan oleh Gerakan Ayo Peduli Sesama (GAPS). Namun lebih dari itu, acara ini adalah bagian dari program pendampingan santri yatim penerima beasiswa Primago. Santri-santri pilihan yang hadir di ruangan itu bukan sembarang peserta; mereka adalah anak-anak yang sedang dipersiapkan untuk mengemban peran lebih besar di masa depan: menjadi pemimpin.
Jejak Kehilangan, Titik Awal Kepemimpinan
Salah satu momen paling berkesan dalam pembukaan ini adalah ketika Ustadz Nurjulizar, S.Ei, selaku Pembina Gerakan Ayo Peduli Sesama, menyampaikan sambutan. Dengan suara mantap namun sarat kehangatan, ia membuka refleksi dengan sebuah catatan sejarah:
“Banyak pemimpin besar dalam sejarah dunia, masa kecilnya ditinggalkan oleh ayahnya. Salah satunya Rasulullah SAW.”

Ungkapan itu membuat seisi aula terdiam. Seakan setiap peserta yang hadir, sebagian di antaranya anak yatim, merasa sedang diajak bercermin pada kisah agung Nabi. Ustadz Nurjulizar kemudian melanjutkan, “Ketika kita ditinggal oleh ayah, yang kita rasakan pasti sedih. Tapi jangan sampai hal itu menjadi alasan untuk gagal.”
Kehilangan, menurutnya, bukanlah akhir. Justru, ia bisa menjadi pintu masuk untuk menemukan kekuatan baru. “Allah itu Maha Adil. Yang diambil satu, diganti dengan yang menyayangi satu dunia,” ujarnya lagi. Kalimat itu mengalir lembut, tapi membekas kuat.
Program Pendampingan: Recharge Semangat dan Mental
Bagi Gerakan Ayo Peduli Sesama, Laskar Langit Leadership Camp bukan sekadar acara seremonial tahunan. Ustadz Nurjulizar menegaskan, program ini adalah bentuk pendampingan yang dirancang untuk “recharge semangat, mental, dan mindset” para santri.
Ia menyebut istilah “tajdidunniyyah” – pembaruan cara pandang terhadap kehidupan. Anak-anak yatim yang hadir adalah pilihan. Bukan manusia biasa, melainkan sosok-sosok yang Allah pilih untuk menjadi bagian dari cerita besar.
“Anak-anak di sini adalah pilihan. Dan yang memilih adalah Allah. Maka maksimalkan kesempatan yang berharga ini,” katanya menekankan.
Amanah dan Latihan Kepemimpinan
Tak berhenti di sana, Ustadz Nurjulizar juga menitipkan pesan agar setiap amanah, sekecil apa pun, harus dijalankan dengan penuh kesungguhan. “Amanah apa pun yang kita terima harus dijalankan dengan baik dan sekuat tenaga,” ucapnya.
Kepemimpinan, dalam pandangannya, lahir dari kebiasaan menjalankan tanggung jawab. Tiga hari dua malam di camp ini adalah ruang percobaan, tempat setiap santri belajar menanggung beban kelompok, bekerja sama, sekaligus melatih keberanian mengambil keputusan.
“Manfaatkan tiga hari dua malam ini dengan baik. Harus maksimal,” katanya menutup sambutan dengan nada optimistis.
Aula Fananie: Ruang yang Penuh Makna
Aula Fananie, tempat kegiatan ini berlangsung, bukan sekadar ruang pertemuan. Dindingnya menyimpan banyak cerita. Dari sinilah berbagai kegiatan besar Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago dimulai. Dari sinilah benih-benih kepemimpinan ditabur.
Di hari pembukaan camp, aula itu seolah berubah menjadi wadah besar tempat semangat para santri dipanaskan kembali. Ada wajah-wajah yang awalnya tampak kaku, lalu berubah berbinar setelah mendengarkan sambutan. Ada pula peserta yang tak kuasa menahan haru ketika mendengar kisah tentang Rasulullah SAW.
Leadership Camp Sebagai “Sekolah Kehidupan”
Bagi para santri yatim, camp ini bukan hanya ajang kegiatan luar kelas. Ia adalah sekolah kehidupan. Dalam tiga hari dua malam, mereka akan menghadapi beragam tantangan. Dari dinamika kelompok, diskusi reflektif, hingga permainan yang dirancang untuk melatih keberanian dan daya juang.
Setiap aktivitas adalah cermin dari kehidupan nyata. Ada kegembiraan, ada rasa lelah, ada ketegangan, tapi juga ada kebersamaan. Semua ini dirangkai untuk memastikan bahwa kelak, ketika para santri menghadapi dunia nyata, mereka sudah punya bekal mental yang kuat.
Mengapa Anak Yatim Butuh Program Pendampingan?
Gerakan Ayo Peduli Sesama merancang program ini dengan satu keyakinan: anak yatim bukanlah generasi yang perlu dikasihani, melainkan generasi yang perlu diberdayakan.
Tanpa sosok ayah di sisinya, seorang anak memang menghadapi tantangan psikologis yang tidak ringan. Ada rasa kehilangan, ada keraguan, kadang ada rasa rendah diri. Namun di balik itu, ada potensi besar yang bisa tumbuh jika diarahkan dengan benar.
Program pendampingan seperti Laskar Langit Leadership Camp menjadi jawabannya. Di sini, santri tidak hanya belajar ilmu agama, tapi juga membangun rasa percaya diri, mengasah kemampuan memimpin, dan menemukan kembali semangat untuk melangkah maju.
Primago dan Gerakan Ayo Peduli Sesama: Kolaborasi Mencetak Pemimpin
Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago dikenal sebagai lembaga pendidikan yang fokus pada pengembangan kepemimpinan. Sementara Gerakan Ayo Peduli Sesama selama ini konsisten dalam advokasi sosial, termasuk pendampingan anak yatim.
Keduanya kemudian berkolaborasi. Primago menyediakan ruang, sistem, dan atmosfer pendidikan. GAPS menghadirkan dukungan program serta beasiswa bagi para santri yatim. Hasilnya adalah kegiatan seperti Laskar Langit Leadership Camp, di mana kepedulian sosial bertemu dengan pendidikan karakter.
Jejak yang Akan Membekas
Seiring berlalunya waktu, tiga hari dua malam mungkin terasa singkat. Namun, jejak yang ditinggalkan dalam jiwa santri akan membekas panjang. Pesan tentang kehilangan yang tak boleh jadi alasan untuk menyerah, pesan tentang keadilan Allah, hingga dorongan untuk memanfaatkan setiap amanah, akan menjadi kompas hidup bagi para peserta.
Ajakan untuk Mendukung
Kegiatan ini tak mungkin berlangsung tanpa dukungan banyak pihak: donatur, panitia, pengajar, dan relawan. Setiap doa, setiap rupiah yang disumbangkan, dan setiap tenaga yang dicurahkan, berkontribusi pada lahirnya generasi baru pemimpin bangsa.
Kini, kesempatan terbuka untuk siapa saja yang ingin ikut serta. Anda bisa menjadi bagian dari perjalanan ini. Membantu santri yatim menemukan cahaya kepemimpinannya, sekaligus memperluas manfaat bagi sesama.
👉 Hubungi langsung WhatsApp 0813-1506-4080 atau kunjungi ayopedulisesama.com untuk informasi lebih lanjut.
Penutup
Laskar Langit Leadership Camp 2025 bukan hanya catatan acara pembukaan. Ia adalah pernyataan: bahwa anak yatim bisa menjadi pemimpin. Bahwa kehilangan bisa berbuah kekuatan. Bahwa pendidikan kepemimpinan perlu dilatih sejak dini.
Di Aula Fananie Primago, pesan itu bergema. Dan dari ruang inilah, harapan tentang masa depan pemimpin yang berintegritas, tangguh, dan peduli, mulai ditulis.
